Jumat, 19 Februari 2010

Skripsi Pendidikan Gratis

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS DIGRAF MELALUI PROSES MENULIS PADA SISWA KELAS SATU SDN BRINGIN 02, KECAMATAN NGALIYAN KOTA SEMARANG

Oleh : Erna Kusumawati

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH 

Pada abad informasi dan globalisasi ini tuntutan zaman makin lama makin tinggi dan kompleks, sehingga siswa perlu mendapat bekal dasar pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang memadahi untuk melanjutkan pendidikan dan terjun ke masyarakat.

Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif baik lisan maupun tertulis. Pembelajaran bahasa Indonesia  mencakup empat aspek ketrampilan yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Khusus anak kelas satu SD diutamakan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia  sederhana melalui membaca, menulis atau mengarang, imla atau dikte dengan menggunakan tata bahasa Indonesia baku  (Tim Penatar Procinsi Jawa Tengah, 1998 : 23). Ketrampilan menulis memegang peranan yang sangat penting, karena tanpa memiliki kemampuan menulis sejak dini, siswa akan mengalami kesulitan belajar di kemudian hari (Depdikbud, 1996). 

Menulis adalah salah satu aspek ketrampilan yang harus dikuasai dengan baik. Kemampuan menulis dibutuhkan siswa dalam mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Dengan demikian kemampuan menulis harus dimilikinya, sebab mampu menulis sama dengan mampu berbahasa atau tulis. 

Kesulitan menulis digraf pada siswa kelas satu SDN Bringin 02 tampak dalam hal-hal sebagai berikut : penulisan bentuk, letak, ukuran dan arah tulisan belum sesuai dengan tulisan yang baku. Hal ini diduga terjadi karena pembelajaran guru kurang memperhatikan proses dalam menulis, tetapi lebih menekankan pada hasil tulisan. 

Apabila siswa kelas satu SD sudah mampu menulis digraf dengan proses dan hasil yang benar maka hal itu akan memperlancar siswa dalam menulis huruf gabung yang lain. Dan sebaliknya apabila kemampuan menulis digraf ini tidak dilakukan perbaikan maka siswa akan mengalami kesulitan dalam menulis selanjutnya. Terkait dengan hal-hal tersebut maka diperlukan suatu penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis digraf pada siswa kelas satu SDN Bringin 02. 

1.2. RUMUSAN MASALAH 

Masalah umum karya ilmiah ini adalah, “Bagaimanakah kemampuan menulis digraf siswa kelas satu SDN Bringin 02 dapat ditingkatkan melalui pendekatan proses menulis ?” 

Adapun rincian masalah yang khusus sebagai berikut : bagaimana teknik penulisan digraf /ng/, /sy/, /kh/, dan /ny/ agar : bentuk, letak, ukuran dan arah tulisan sesuai dengan yang baku. 

 1.3. TUJUAN 

Karya ilmiah ini diadakan dengan tujuan sebagai berikut :

1) Meningkatkan kemampuan siswa dalam hal menulis digraf melalui proses menulis dengan harapan tulisan yang dihasilkan sesuai dengan bentuk, letak dan arah tulisan yang baku. 

2) Meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan pendekatan proses menulis dalam pembelajaran menulis digraf. 

 1.4. MANFAAT 

Diharapkan karya ilmiah ini bermanfaat bagi :

1. Siswa

Untuk meningkatkan kemampuan siswa SD khususnya dalam menulis digraf /ng/, /ny/, /sy/, dan /kh/ serta penulisan huruf gabung yang lain 

2. Guru

Sebagai masukan dalam mengatasi masalah menulis, khususnya menulis digraf dan dapat dijadikan model pembelajaran untuk mengatasi kesulitan mengajarkan menulis dengan materi pelajaran lain. 

3. Sekolah

Diharapkan dapat menjadi landasan pengembangan pembelajaran dalam rangka meningkatkan kemampuan menulis dan pengembangan pengajaran bahasa Indonesia, khususnya untuk meningkatkan kemampuan menulis digraf. 

BAB II 

LANDASAN TEORI

 

2.1. Pengertian Kemampuan Menulis

Menulis adalah membuat huruf atau angka dengan pensil, pena, kapur dan sebagainya dengan melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang dengan tulisan (Depdikbud, 1993 : 986). Menurut Tarigan, menulis adalah melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut (Haryadi, 1997 : 77). Menurut Akhadiah, menulis adalah aktifitas mengekspresikan ide gagasan, pikiran atau perasaan ke dalam lambang kebahasaan bahasa tulis (Rofiuddin, 1996 : 263). Menulis adalah mengekspresikan pikiran dan perasaan ke dalam lambang-lambang tulisan (Mulyono, 1999 : 223). 

Kesemua pengertian menulis tersebut pada dasarnya hampir sama yang ditandai dengan adanya aktivitas, ide, gagasan, lambang tulisan atau bahasa tulis yang digunakan. Jadi dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kegiatan atau aktivitas mengekspresikan ide atau gagasan ke dalam lambang bahasa tulis (grafis, huruf dan angka) dengan menggunakan alat tulis dan dapat dipahami oleh orang lain. 

Kemampuan menulis adalah merupakan ketrampilan berbahasa produktif melibatkan aspek penggunaan ejaan, kemampuan penggunaan kosa kata (diksi), kalimat dan komposisi (Rofiuddin, 1996 : 236). Ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi dalam bentuk tulisan serta penggunaan tanda baca. Ejaan sebagai cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf, singkatan akronim, angka, bilangan dan tanda baca (Sugihastuti, 2000 : 53). 

Kemampuan menulis berguna untuk siswa dalam hal menyalin, mencatat dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah, sehingga perlu dimiliki supaya dapat mengatasi kesulitan dalam hal menulis. 

 2.2. Fungsi Menulis 

Menurut Tarigan, fungsi utama menulis adalah sebagai alat komunikasi (Subchi, 2003 : 7). Adapun fungsi menulis itu ada beberapa antara lain : 1) Memudahkan siswa untuk berfikir kreatif, 2) Memudahkan untuk merasakan dan menikmati hubungan kemanusiaan, 3) Mempermudah daya tangkap, 4) Memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, 5) Menyusun urutan berbagai pengalaman. 

Adapun fungsi menulis yang tercakup dalam fungsi mata pelajaran bahasa Indonesia adalah : 1) Mengembangkan kemampuan bernalar, 2) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, 3) Mengungkapkan pikiran, 4) Mengungkapkan perasaan dan, 5) Membina persatuan dan kesatuan bangsa (Tim Penatar Privinsi Jawa Tengah, 1998 : 22). 

 2.3. Digraf 

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang membedakan makna (Sugihastuti, 2000 : 54). Biasanya satu fonem dilambangkan dalam satu huruf, oleh karena jumlah fonem lebih banyak daripada jumlah huruf maka ada fonem yang dilambangkan dua huruf itulah yang dinamakan digraf dan diftong. Digraf adalah fonem yang dilambangkan dengan dua konsonan, sedangkan diftong adalah fonem yang dilambangkan dengan dua vokal. 

Digraf adalah dua huruf yang melambangkan satu bunyi (Rofiuddin, 1996 : 74). Digraf adalah gabungan dua huruf yang melambangkan konsonan (Moelyono, 1996 : 379). Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa digraf adalah satuan bunyi bahasa yang terdiri dari huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi. 

Dalam bahasa Indonesia  dikenal ada empat macam digraf, yaitu : /ng/, /ny/, /kh/, dan /sy/. Penjelasannya sebagai berikut : 

1. Digraf /ng/

Digraf /ng/ dapat ditulis pada awal kata, tengah kata, dan akhir kata.

Adapun contohnya : ngilu (awal), bangun (tengah) dan senang (akhir).

2. Digraf /ny/

Digraf /ny/ dapat ditulis pada awal kata dan tengah kata saja.

Contohnya : nyata (awal), hanyut (tengah)

3. Digraf /kh/

Digraf /kh/ dapat ditulis pada awal kata, tengah kata dan akhir kata.

Contohnya : khusus (awal, tarikh (akhir).

4. Digraf /sy/

Digraf /sy/ dapat ditulis pada awal kata dan tengah kata. Contohnya :

syarat (awal), isyarat (tengah).

2.4. Proses Menulis

Proses menulis adalah aktivitas yang dilakukan dengan mengikuti alur proses yang terdiri atas tahapan sebagai berikut : 1) pra menulis, 2) menulis, 3) merevisi, 4) mengedit, 5) publikasi (Haryadi, 78-79). 

Selanjutnya disebutkan bahwa menurut Akhadiah ada tiga tahapan dalam menulis yaitu : 1) pra menulis, 2) penulisan digraf, 3) revisi (Haryadi, 1996 : 78). Proses menulis adalah rangkaian aktifitas yang bersifat fleksibel meliputi : 1) pra menulis, 2) penulisan digraf, 3) revisi, 4) penyuntingan dan 5) publikasi atau pembahasan (Rofiuddin, 1996 : 76-77). Jadi proses menulis adalah aktivitas yang dilakukan dengan tahapan yang berurutan dimulai dari pendahuluan (pra menulis), isi (menulis dan merevisi) dan penutup (publikasi). 

Menulis digraf melalui proses menulis adalah aktivitas dalam kegiatan mengekspresikan ide atau gagasan ke dalam lambang bahan tulis yaitu gabungan dua konsonan yang melambangkan satu bunyi yang dilakukan dengan mengikuti alur proses menulis dalam tahapan yang berurutan. Adapun tahapan yang digunakan sebagai berikut : 1) pra menulis, 2) menulis, 3) merevisi, 4) mempublikasikan. 

Kriteria penulisan digraf yang baik sebagai berikut :

1) Menggunakan pedoman

Pedoman yang digunakan adalah tulisan yang baku yaitu tulisan yang sesuai dengan Keputusan Dirjen Dikdasmen Depdikbud no. 024/c/kep.I-83 dan no. 0521/C2/4.88 

2) Penempatan yang sesuai

Digraf /ng/ dan /kh/ dapat ditulis pada awal, tengah dan akhir kata, sedang digraf /ny/ dan /sy/ tidak dapat ditulis pada akhir kata. 

3) Penggunaan digraf

Dapat digunakan dalam penulisan digraf secara lepas. Digraf dalam suku kata, kata, kalimat dan paragraph atau karangan. 

4) Memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bentuk, letak, ukuran dan arah tulisan yang benar sesuai dengan pedoman. 

 BAB III 

PAPARAN HASIL

 

3.1. Bimbingan di SDN Bringin 02

Bimbingan di SDN Bringin 02 terdiri dari bermacam-macam bimbingan, mulai dari bimbingan tingkah laku, bimbingan bakat dan bimbingan belajar. Bimbingan belajar dilakukan oleh guru kelas masing-masing. Hal ini dikarenakan di Sekolah Dasar guru kelas juga bertugas sebagai guru mata pelajaran. Dalam hal ini guru SD dikatakan guru paling sepesial diantara guru-guru di jenjang pendidikan lainnya, dikarenakan guru SD menguasai semua mata pelajaran. 

Bimbingan yang diberikan yaitu bimbingan mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas 1. Pelaku bimbingan yaitu Ibu Afwah, S.Pd. selaku guru kelas 1. Bimbingan diberikan secara klasikal, mengingat banyaknya jumlah siswa kelas 1. Selain guru kelas, kepala sekolah dan orang tua siswa pun turut terlibat dalam bimbingan yang diberikan kepada siswa. 

Dalam pelaksanaan bimbingan guru menggunakan multi metode, yaitu metode ceramah, penemuan, tanya jawab, demonstrasi, dan pemberian tugas. Dengan penggunaan multi metode diharapkan pembelajaran bahasa Indonesia akan lebih efektif. Bimbingan dilakukan dari perencanaan program bimbingan sampai supervise. 

 3.2. Langkah-langkah Pelaksanaan Bimbingan Bahasa Indonesia 

Langkah - langkah pelaksanaan bimbingan yang diberikan oleh pembimbing yaitu : 

1. Merencanakan pelaksanaan bimbingan

Dalam perencanaan, langkah awal yang dilaksanakan guru adalah mengidentifikasi masalah belajar pada diri siswa. Setelah itu guru mulai menyusun langkah-langkah bimbingan yang akan dilaksanakan. 

2. Pelaksanaan bimbingan

Pelaksanaan bimbingan guru mengambil beberapa langkah, yaitu : 

a. Guru menggunakan pedoman yang baku

Pedoman yang digunakan adalah tulisan yang baku yaitu tulisan yang sesuai dengan Keputusan Dirjen Dikdasmen Depdikbud No. 024/c/kep/i-83 dan No. 0521/C2/4.88. 

b. Penempatan yang sesuai

Digraf /ng/ dan /kh/ dapat ditulis pada awal, tengah dan akhir kata, sedang digraf /ny/ dan /sy/ tidak dapat ditulis pada akhir kata. 

c. Penggunaan digraf

Dapat digunakan dalam penulisan digraf secara lepas. Digraf dalam suku kata, kata, kalimat dan paragraph atau karangan. 

d. Memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bentuk, letak, ukuran dan arah tulisan yang benar sesuai dengan pedoman. 

 3.3. Evaluasi Pelaksanaan Bimbingan 

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui tingkat kebersihan atau adanya Peningkatan yang dilakukan oleh siswa dengan cara penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses adalah penilaian yang dilakukan pada waktu kegiatan berlangsung, yaitu penilaian terhadap hal-hal berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan siswa pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian hasil adalah penilaian yang dilakukan kepada siswa terhadap hasil tulisannya, setelah selesai kegiatan belajar mengajar. 

Penentuan keberhasilan adalah apabila hasil rata-rata dari penilaian proses dan penilaian hasil menunjukkan adanya peningkatan kriteria dari kurang (k), dari cukup menjadi baik (B) berdasar keadaan sebelum dengan keadaan setelah dilakukan tindakan atau tidak adanya penurunan kriteria. 

 3.4. Supervisi Kegiatan Bimbingan 

Supervisi dilakukan oleh Kepala Sekolah. Beliau bertugas memantau kegiatan bimbingan yang diberikan oleh guru pembimbing. 

Setelah dilakukan bimbingan ternyata nilai yang diperoleh siswa meningkat. Hal ini berarti bimbingan yang diberikan oleh guru berhasil. 

 BAB IV 

PENUTUP

 

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses menulis digraf pada siswa kelas satu SDN Bringin 02 Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, dapat disimpulkan sebagai berikut : 

1. Bimbingan belajar yang diberikan guru menggunakan lebih dari satu metode belajar bahasa Indonesia, yaitu metode ceramah, metode demonstrasi, metode tanya jawab, metode pemberian tugas. 

2. Pada hasil pengamatan diperoleh data tentang kesulitan menulis digraf. Kesulitan itu ditunjukkan dengan kesalahan yang dilakukan dalam menulis digraf, baik bentuk, arah, letak maupun ukuran tulisan yang tidak sesuai dengan tulisan yang baku. 

3. Hasil penulisan proses pembelajaran dan penelitian hasil menulis digraf siswa terteliti yang semula mendapat nilai k (kurang) dan meningkat menjadi B (baik) setelah dilakukan bimbingan. 

4. Pendekatan proses menulis dapat meningkatkan kemampuan menulis digraf pada siswa kelas satu SDN Bringin 02 Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang. 

 4.2. Saran 

Saran-saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil pengamatan dalam upaya pengefektifan pembelajaran menulis digraf melalui proses menulis sebagai berikut : 

1. Pendekatan proses menulis perlu digunakan dalam pembelajaran menulis digraf dan pembelajaran menulis yang lain agar kemampuan menulis siswa dapat meningkat. 

2. Kepada siswa perlu dibiasakan menggunakan media pembelajaran yang menunjang dalam pembelajaran yang menggunakan proses menulis. 

3. Kepada guru-guru SD yang akan meningkatkan kemampuan menulis para siswanya, pendekatan proses menulis merupakan cara yang perlu diperhatikan bagi yang telah memahaminya dan perlu mempelajari bagi yang belum mengetahui. 

 DAFTAR PUSTAKA 

 

Akhadiah, Sabarti. 1977. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga. 

Depdikbud. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Depdikbud. 1993. Tata Bahasa Buku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Haryadi. 1996. Peningkatan Ketrampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta : Proyek Pengembangan PGSD. 

Keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 054/C/Kep/I.83 tanggal 7 Juli 1983 dan Penegasan Ukuran 

Tulisan Tangan No. 0251/C2/U-88 tanggal 27 Juni 1998. Jakarta : Depdikbud.

Rofiuddin. 1996. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi. Depdikbud : Proyek Pengembangan PGSD. 

Sugihastuti. 2000. Bahasa Laporan Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Subchi. 2003. Meningkatkan Kemampuan Menulis Prosa Deskrips. Semarang : UNNES. 

Tim Penatar Provinsi Jateng. 1998. Bahan Penataran Siswa Pembinaan Profesional. Depdikbud : Proyek Sekolah Dasar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar